Selasa, 02 Juni 2015

JOMBLO ITU BAHAGIA, LHO KOK BISA?!



"JOMBLOOOOOO……." Teriak seseorang tepat di gendang telingaku. Sontak aku loncat dari ranjang tidur dan…. "gubrak!" mendarat di karpet dengan keras. Aku meringis kesakitan. Aduh… busyet dah siapa nih pagi-pagi udah ngajak berantem. Uuuhhhh, sebeeell!!
Ku kucek-kucek mataku yang masih sipit, ee..ee.. ada kaki jerapah berdiri tepat di depan mataku. "Hwahahahaha!!"…. Et, suara sapa tuh, terdengar cempreng macam sapi diinjak kodok, eh kebalik ya? Hehe, macam kodok diinjak sapi. Wah, kayaknya kenal nih dengan suara ini. Kudongakkan kepalaku keatas, coba menatap bayangan di depanku.    
"Abaaaang….." teriakku begitu tahu bayangan siapa itu. Kakak-ku menongolkan kepalanya dari balik bantal.
"Ha..ha..ha…" semakin puas saja dia tertawa melihatku kesakitan. Ngeselin kan? Lebih ngeselin lagi dia enggak mau bantu berdiri, justru tertawa diatas penderitaan orang. Huh! Setelah nggak kuat menahan pipis, barulah berangsur-angsur tawanya reda. Ia berjalan mendekatiku yang saat itu nggelosor di lantai.
"Sorry dek bro, hahaha…" enak sekali dia minta maaf sambil nyengir gitu. Ah, tak kuterima kata maafnya.
Diacak-acak rambutnya yang berjambul itu, dipasang juga tampang sok imut dan lugunya, dia coba memelas. "Maapin Abang gantengmu ini yak? Pliiss!" Huh, dikira aku akan luluh, enggak mempan lah yaw! Lagian bukannya baik-baikin aku, eh masih sempet-sempetnya memuji diri sendiri. Hap, kubalas dengan tampang jutekku.
"Adikku yang cuantiiikkkk…. Pliiisss, maapin abangmu ini. Abang ngaku salah dan tolong diterima maafnya. Kalau dikau tak jua maapin abang, plisss.. tolong ijinkan abangmu ini membaca pantun yang akan menghiburmu….." kata kakakku tetap dengan tampangnya yang sok lugu itu. Satu..dua..tiga… Et dah, suara cempreng itu makin menjadi-jadi.
Burung kutilang burung cendrawasih
Induk burung terbang ke selatan       
Bertahun-tahun tanpa kabar dan kasih
Macam bang toyib yang tak pulang-pulang
Hupsss, kutahan tawaku yang hampir keceplosan. Hihihi.. dasar abang gokil, batinku geli. Aku tetap berpura-pura jaim. Tapi dia tetap dengan pedenya melanjutkan. Jas.. jis.. jus…
Anak ayam turun sepuluh
Mati satu tinggal Sembilan
……… tiba-tiba……….
(Kakakku terbengong macam kesurupan jin ifrit)…..
"Kenapa bang?" tanyaku kemudian.
"Huhuhu… jadi sedih ayamnya mati!" katanya dengan wajah ditekuk.
Hwahahaha…. Giliranku yang terbahak-bahak melihat ekspresi sedihnya itu. Belum puas tertawa, mami berteriak nyaring.
"Poooooo…. Oneeeeeee…" et dah, kenceng juga mami kalo lagi teriak. Apalagi kalo lagi marah, wah wah suaranya yang merdu jadi kayak TOA. Sengaja nih mami kalo lagi marah pasti manggil anak-anaknya rada ngawur. Puji nama yang keren, eh di panggil pooo, wawan juga nama yang keren eh di panggil juga oneee. Waduh, mami siapa ini? Pura-pura tak mengakui.
"Ya maaammm…" teriakku dan kakak berbarengan. Kita lari terbirit-birit menuju sumber suara mami. Begitu sampai di depan mami, mami justru memberikan gagang telpon rumah. "Nih ada telpon dari papi…."
"Hallo.. ya pap, ada apa?" Tanya kakakku.
"Anterin adekmu ke tempat privat. Papi lagi ada acara di luar, kalo enggak dianterin nanti adekmu malah mampir kemana-mana.." kata papi diseberang telpon.
"Siap pap, beresss!" kata kakakku sambil cengengesan. Huh, dia merasa menang. Ada-ada sih papi ini, umur sudah sweet seventeen juga masih antar jemput. Huh, enggak percaya banget nih sama anaknya. Padahal aku juga enggak main kemana-mana. Paling kalo lagi bĂȘte cuma main game berjam-jam. Nongkrong.  Atau makan-makan. Dongkol!
Klik. Gagang telepon itu ditutup. "Hehe.. siap-siap sana adekku sayang.. Tenang hari ini abangmu yang akan ngganterin. Hehehe…senyum dong. Smileee..!" katanya sambil menjewer pipi kanan kirinya, bikin aku tambah keki. Kakakku seneng nganterin privat karena dia bisa ketemu sama kak Yaya, cewek taksirannya. Tapi sayang, dari dulu dia enggak pernah pacaran karena enggak berani mengungkapkan perasaan. Takut ditolak katanya. Haha. Jomblo forever bahasa gaulnya. Sama kayak…. aku! Ehem. Ets, tapi aku jomblo bukan karena enggak laku-laku ya, Cuma enggak pengen pacaran aja (ngeles, padahal takut sama papi, syuutt.. rahasia kita!).
"Hemmm.." aku hanya bergumam lalu ngeloyor pergi.
*****
            "Yuk naik…" kata kakakku begitu motor sudah di starter. Wajahnya yang sok manis itu masih saja cengengesan.
"Hati-hati, nak!" teriak mami dari dapur. "Ya mam..! " kusahut dengan cepat. Aku langsung nangkring diatas jok motor. Tanpa banyak ba.. bi.. bu.. motor langsung melaju di jalanan beraspal.
Dalam perjalanan ke tempat privat, kita diam beribu bahasa. Entah apa yang ada dalam benak kita masing-masing. Yang pasti kita lebih tertarik untuk diam.
Siang itu begitu panas, mentari yang bersinar mungkin sedang bahagia. Dia menampakkan sinarnya dengan leluasa. Hasilnya, peluh disekujur tubuhku mengalir deras. Angin sepoi-sepoi yang bertiup tak juga memberikan efek kesejukan. Rasanya masih saja gerah. Ah, mungkinkah ini pengaruh perasaanku saja. Aku berpikir dalam.
***
Teringat beberapa waktu yang lalu, saat aku masih memakai seragam putih abu-abu. Aku tergolong cewek supel disekolahku, ehem.. bukan kepedean tapi ini hasil survey temen-temenku lho! Hehe.. Mereka bilang aku cewek tomboy, supel, unik, temannya cowok semua, enggak mau pacaran, dan… ini itu, itu itu apalah pokoknya. Tapi bagiku, ya aku anaknya begini saja. Tak ada yang aneh pada diriku. Aku bergaul dan berteman biasa saja. Makan juga biasa. Nongkrong dan main game juga biasa. Cuma aku memang enggak pernah pacaran. Mungkin ini yang dianggap aneh oleh teman-temanku. Coba kalo begini siapa yang aneh?

Bicara soal pacar, memang sih aku belum pernah pacaran. Bukan karena enggak laku-laku ya, tapi memang karena enggak ada yang mau naksir aku. Ehh.. keceplosan. Hemm, ini masalah panggilan dari hati. Walaupun bisa dibilang aku punya banyak temen cowok, tak ada satu pun yang jadi pacarku. Kenapa? Pasti itu pertanyaanmu. Karena aku punya satu prinsip teman: Tidak akan pacaran sebelum menikah! Eh.. bingung yak? maksudnya begini lho, aku mau fokus belajar dulu, selain takut sama papiku juga (nyari alasan J).
            Pernah dulu aku sempet suka sama salah satu cowok disekolahku. Dia adalah kakak tingkatku di SMA. Dia kelas sebelas dan aku kelas sepuluh. Sebut saja namanya Brams, keren kan namanya? Namanya memang keren, sekeren wajahnya. Dia cakep, bertubuh tinggi dan atletis, orangnya juga murah senyum. Dibanding diriku sebelas dua belas lah. Aku juga cantik, putih, tinggi semampai, murah senyum, saking murahnya jadi banyak tertawa (ini kata mami, pokoknya aku paling cantik sedunia). Dia bintang kelas jurusan matematika dan aku juga bintang ke-jo-ra-nya matematika. Alias kejedot ra bisa bisa. Hehe.. ampun deh kalo pelajaran matematika. 
Saking sukanya sama cowok bernama Brams ini, setiap hari aku selalu nyuri pandang. Setiap pagi nongkrong di samping gerbang nungguin si doi lewat. Belum abdol kalo pagi itu belum liat dia. Nyari-nyari fotonya sampai dibela-belain modal banyak: titip kamera sama Ryan untuk fotoin Brams, eh dianya minta bagian. Kalo pas valentine mondar-mandir bingung nyari coklat, mau dikasih ke Brams enggak berani eh akhirnya dimakan sendiri. Huh!
Sampai suatu hari yang indah seperti pelangi. Aku dan brams bertemu tak sengaja di Rumah Karya (enggak sengaja nungguin dia, maksudnya..hihi). Tempat yang mirip perpustakaan ini rasanya seperti rumah salju begitu kulihat dia. Cie.. grogi euy, akhirnya pura-pura ku ambil beberapa buah buku dan kubawa ke meja terdekat. Tak sengaja Brams juga melihat ke arahku. Aku jadi deg-degan. Dari jauh aku kembali memandangnya. Lha dalah, dia juga melihat kearahku. Wuih, rasanya hati ini ingin meloncat keluar.
“Emm....lagi nyari buku apa?” eh, tanya Brams tiba-tiba didekatku. Lho..lho.. mimpi apa nih semalem disamperin cowok ganteng.
 “Enggg..,lagi nyari…Contoh puisi buat tugas sastra !” aku mendehem  gugup.
Lho?  jurusan matematika ada pelajaran seni juga toh? Batinku geli.
“o................” Kami diam. Kami sama-sama salah tingkah.
***
Sejak hari itu, aku pikir akan semakin dekat dengan Brams. Tinggal mencari moment yang tepat lalu happy ending, dan semuanya berakhir bahagia. Seperti cerita-cerita dalam film drama (hah, ngaco!). Tapi pagi ini Dina, Reza, Irwan, Agus, Didik, Ryan dan beberapa temen cowok yang tak cukup kusebut satu-satu mendekatiku. Wah..wah, kenapa nih mereka datang barengan gitu, kayak mau demo aja. Wah, mimik muka mereka serius lagi. Sinar mata mereka berkilat-kilat kayak pedang samurai (hihi.. belum pernah liat sih!).
Wah..wah..ada apa ni? hatiku makin bertanya-tanya.
“Pooo.....elo udah jadian ya sama Brams anak matematika?”
Tembak Reza dengan nada ketus.
“Eits....apa-apaan sih pagi-pagi ngajak bercanda kayak gini yah? Wah..wah..nggak lucu...!” kataku sambil cengengesan.
“Kita enggak bercanda. Kita serius ...!” kata Dina dengan mukanya yang juga ketus.
“Elo beneran udah jadian?” kini giliran Didik yang memastikan.
“Enggak, pliis deh. kalian nih apa-apaan sih!”
“Elo nggak jujur poo, kita kemaren liat elo bareng Brams di Rumah Karya. Kalian pacaran kan?” tanya Dina tajam.
Waduh, mati gue!!
“Emmm Gue cuma naksir Riyan, kita Cuma temenan. Buktinya dia nggak nembak gue dan kita juga nggak pacaran..” kataku membela diri.
“Yah syukurlah..” Kata mereka berbarengan. Bentar bentar maksudnya apa nih mengintrogasi kayak gini?
"Kita enggak papa ya, kalo elo punya pacar dan mengakhiri masa jomblo elo sekarang. Kita jujur seneng banget. Tap kita enggak rela kalo elo pacaran sama playboy itu."
WHAAAATTT.........!!

...................     Hening.
Dunia seakan berhenti berputar, waktu seakan tak lagi berdetak, dan langit tiba-tiba mendung.
“Apa... playboy. BRAMS PLAYBOY??” tanyaku tak percaya.
Hancur deh semuanya. Aku menarik nafas resah. Kenapa jatuh cinta sakitnya begini? apa salahku? Apa aku tak pantas jatuh cinta? Apa aku jatuh cinta sama Brams salah? Kenapa aku begitu rapuh karena cinta? Kau tahu kawan sakitnya dimana? (sakitnya tuh disini… #nunjuk perut. LAPER!)
***
Zheeepp.. kakakku mengusap wajahku lalu memencet hidung. Aku tergagap.
"Heyyy.. udah sampai nih, nglamun aja. haha!" katanya terkekeh.
Kawan, tangisan pertama tentang cinta itu menyedihkan. Pertama kalinya patah hati itu sangat menyakitkan. Itulah cinta. Tidak melulu penuh kebahagiaan. Naif sekali jika berfikir cinta itu penuh dengan warna-warni bunga-bunga. Ahh, cinta memang tak seperti  mimpi dan dongeng indah.
Kalo sekarang hidupmu belum siap untuk menikah, cobalah untuk menghindari pacaran. Meski hanya untuk mainan, coba-cobaan, atau iseng-isengan, karena sayang sekali energi cintamu terkorbankan. Bukan untuk menggurui, mending kita simpan energi cinta kita untuk orang yang benar-benar mencintai kita nanti, saat waktunya tepat, yakinlah bahwa Allah akan mengirim pangeran untuk kita dengan cara yang lebih indah. Laki-laki yang baik untuk wanita yang baik, dan laki-laki yang buruk untuk wanita yang buruk. 

Menjadi jomblo itu bahagia. Ada 2 kebahagiaan yang kita rasakan. Bahagia pertama itu di dunia. Kita tidak terikat oleh sesuatu yang belum pasti, jadi kita bisa enjoy dengan apapun yang kita mau. Bahagia kedua, itu di akhirat. Kenapa? Karena tak akan dicambuk malaikat karena zina pacaran, et maksudnya pacaran itu seperti zina. Yaitu zina mata, zina kaki, zina mulut, dan zina seluruh anggota tubuh. Ihh, ngeri. Nauzubillah !
Aku beringsut turun.
"BYEE.." kataku sambil berlari.
***

Senin, 18 Mei 2015

Sesejuk Rasa Ini


Mendidik itu seperti memberi kesegaran atas dahaganya jiwa-jiwa yang hampa akan ilmu.

Kamis, 14 Mei 2015

AWAS, PELAJARAN PAI ADA ULAR TANGGA!



Mari kita renungkan sejenak, sebagai seorang guru, pernahkah kita merasakan jenuh karena aktivitas rutin mengajar yang itu itu saja? Pernahkan kita merasa jengkel dan marah karena anak didik sulit memahami pelajaran kita? Dan pernahkah terlintas dalam pikiran kita untuk berhenti mengajar lalu mencoba hal lain yang baru? Mungkin banyak dari kita yang akan menjawab "Ya". Kenapa? Karena menjadi guru memang bukanlah pekerjaan yang mudah. Didalamnya, dituntut pengabdian dan ketekunan. Harus ada pula kesabaran dan welas asih dalam menyampaikan pelajaran. Sebab, sejatinya guru bukan hanya mengajar, tetapi juga mendidik. Dan hanya orang-orang tertentu saja yang mampu menjalankannya.
Menjadi guru akan terasa istimewa manakala anak didik sangat mencintai kita. Dan untuk menjadi seseorang guru yang dirindukan murid-muridnya, kita harus mencoba metode pengajaran baru dan memikat. Sehingga anak didik kita akan menerima pelajaran yang diberikan dengan hati senang dan antusias. Hasilnya, materi yang kita ajarkan akan mudah diterima dan diserap.
Perkenalkan nama saya Dwi Puji Astuti, saya mengajar di SDIT Wahdatul Ummah di Kota Metro, Lampung. Saya mengajar mata pelajaran PAI dikelas 4 dan 5. Bulan ini, kebetulan materi yang saya ajarkan telah habis, dan kita tinggal mengulang-ulang materi yang sudah disampaikan itu. Soal-soal ulangan harian baik berupa pilihan ganda, isian, dan essay menjadi alternatif untuk mengukur kemampuan anak dalam memahami pelajaran, Alhamdulillah hasilnya cukup memuaskan. Soal-soal ujian semester tahun lalu juga sudah selesai kita bahas, untuk persiapan ujian semester bulan Juni nanti.
Mengerjakan soal-soal dan materi yang sama membuat anak-anak merasa bosan. Bukan hanya siswa yang bosan, saya sebagai guru juga kadang merasakan jenuh. Maka, setiap saya masuk kelas, anak-anak sering minta main game, atau nonton film, atau minta jalan-jalan. Rupanya mereka bosan dengan rutinitas belajar yang begitu-begitu saja. Hal ini membuat saya berpikir ekstra, metode belajar apa yang unik dan menarik yang mampu membuat anak-anak senang dan nyaman dalam belajar.

Ternyata oh ternyata, belajar sambil bermain adalah solusi yang tepat. Awalnya saya bingung bermain apa yang mengasyikan. Ketika saya melihat ada anak-anak yang bermain "ular tangga" di kelas, saya jadi tertarik untuk bermain itu. Namun saya masih bingung, tekhnik bermain ular tangga seperti apa yang cocok dengan pelajaran PAI. Akhirnya, setelah berpikir sejenak, saya tahu bagaimana membuat palajaran PAI saya terasa lebih mengasyikkan. Materi PAI yang sudah saya sampaikan, saya buatkan soal sebanyak 50 butir. Sketsa permainan saya gambarkan di papan tulis lengkap dengan gambar ular dan tangga. Kotak dadu-nya saya manfaatkan dari pelajaran matematika yang membuat kubus dari kertas karton. Lalu saya membagi siswa dikelas itu menjadi 6 kelompok, masing-masing kelompok terdiri dari 5 anak. 

 Sebelum permainan ular tangga dimulai, saya bacakan ketentuan permainannya. Pertama, Anak-anak yang sudah terbagi dalam kelompok harus menunjuk ketua sebagai juru bicara. Selanjutnya, setiap kelompok akan diberikan pertanyaan PAI yang saya buat sesuai urutan permainan yang telah diacak sebelumnya. Kelompok yang bisa menjawab soal, baru boleh melempar dadu untuk bermain. Angka hasil lemparan dadu itu menunjukkan langkah permainan mereka menuju ke finis. Bagi yang mendapat angka 6, maka dia mendapat bonus boleh melempar dadu lagi. Namun jika 3 kali melempar dadu dan berturut-turut mendapat angka 6, dia harus memulai permainan dari awal. Jika langkah dadu berhenti tepat ditangga, maka dia naik sesuai panjang tangganya. Jika langkah dadu berhenti tepat diular, maka dia harus turun sesuai panjang ularnya. Dan jika ada 2 kelompok yang bertabrakan di nomor ular tangga yang sama maka ia juga harus memulai dari awal. Dan sungguh lihatlah, anak-anak begitu antusias belajar sambil bermain ular tangga ini. Hingga waktu istirahat datang, mereka masih meminta untuk meneruskan permainan. Pelajaran PAI yang biasa, kini jadi terasa luar biasa, berbeda, dan menyenangkan.
  
Bapak/ibu guru, sungguh metode pengajaran yang menyenangkan, dan ketulusan hati kita adalah unsur terpenting dalam proses pendidikan yang sukses. Ketulusan hati itulah yang akan memberikan kelap kelip cahaya kebajikan dalam setiap nilai yang kita ajarkan. Lewat ketulusan kitalah, sumber cahaya itu akan menyinari setiap hati anak-anak didik kita. 

Jika kita ingin merasakan pengalaman batin dan mengajar yang berbeda cobalah untuk mengajar dengan tekhnik baru dan ketulusan. Rasakan kenikmatan hasilnya kala anak-anak didik kita memanggil kita dengan sebutan "guru". Dan biarkan mata penuh perhatian kita memenuhi ruang dan waktu. Ada sesuatu yang berbeda disana. Cobalah. Rasakan.
#Metro, 15 Mei 2015

Minggu, 03 Mei 2015

Cara Komunikasi yang Asyik dengan Anak



Pernahkah kita mengasuh seorang anak? Ya, mengasuh seorang anak pada dasarnya sangat menyenangkan dan membuat kita bahagia. Meski yang kita asuh bukan anak kita, adik kita, atau keponakan kita, mengasuh akan tetap menyenangkan. Karena sejatinya, seorang anak adalah Qurrota a'yun atau perhiasan bagi mata kita. Lalu kenapa ketika kita mengasuh seorang anak,  kita sering merasakan atau mengeluh pusing dan stres? Ternyata kita belum mampu mengasuh anak itu dengan baik. Atau kita belum mampu berkomunikasi dengan amazing (menakjubkan).
            Saya punya satu murid yang bagi saya sangat berbeda dengan murid saya yang lain. Murid saya itu tergolong anak yang aktif luar biasa. Dia termasuk anak tipe kinestetik. Ia selalu merasa bosan jika berlama-lama di tempat yang sama. Keinginannya adalah mencoba sesuatu yang lain dan baru. Makanya, ketika anak-anak yang lain sibuk belajar, ia akan menghilang dari kelas dan bermain ke kelas yang lain. 5 menit sebelum bel berganti pelajaran berbunyi, ia sudah lebih dahulu keluar kelas mendahului gurunya. Ketika yang lain sibuk makan dan sholat dhuha, ia justru sibuk dengan aktifitasnya sendiri. Dan ketika saya berusaha mengingatkannya, ia selalu bilang "nanti" atau "aku memang bodoh".
            Jujur, saya selalu pusing menanganinya. Mungkin kita juga suka mengeluh, seperti halnya keluhan ini.
"kenapa ya, anak ini maunya main melulu?"              
"kalau diingatkan selalu bilang nanti-nanti, kalau dipaksa malah marah!"
"sudah diingatkan berkali-kali, tetap saja tidak berubah"
"kalau kita coba berbicara dari hati, ia selalu bilang 'aku memang bodoh'!"
            Ingin rasanya saya menikmati peran menjadi orang tuanya. Membuatnya merasa nyaman kala bersamaku. Namun ternyata, untuk menjadi seseorang yang nyaman baginya sangatlah tidak mudah.
Telisik demi telisik, ternyata gaya komunikasi yang biasa disampaikan kepadanya ada yang kurang pas. Orang tua sering memakai gaya pengasuhan otoriter, artinya orang tua terlalu ketat dan disiplin memperlakukan anak harus patuh sepenuhnya. Akibatnya, alih-alih anak akan patuh dan menurut, anak jusru merasakan perlakuan itu mengekangnya. Anak akan merasakan terpenjara, setiap perbuatannya selalu salah, dan hanya orang tua yang berhak menentukan arah hidupnya. Maka timbullah sikap pesimis seorang anak, ia akan merasa minder, dan menganggap dirinya selalu salah dan bodoh. Sehingga, ia akan melakukan hal yang baru entah itu benar atau salah, tujuannya agar orang lain menghargai dan memuji perbuatannya.
Menghadapi tipe anak yang seperti ini, yang saya lakukan adalah mencoba membuatnya merasa asyik dan nyaman dengan saya terlebih dahulu. Berdasarkan pengetahuan yang saya peroleh dari bunda Rani Razak Noe'man, ada beberapa cara yang biasa saya lakukan, yaitu:
1.    Bersabar dan yakin bahwa seorang anak adalah perhiasan dari Allah Swt.
2.    Open door (membuka pintu) komunikasi. Cara ini bertujuan untuk menyibak hambatan psikologis yang dirasakan oleh si anak. Seorang anak akan merasa dihargai dan dimengerti perasaanya, ia juga akan merasa kita berada dipihaknya. Tanpa menyuruh ia bercerita, dengan sendirinya ia akan menumpahkan segala perasaan yang tak bisa ia tumpahkan pada orang tuanya.
3.    Memahami bahasa tubuh. Ternyata dalam berkomunikasi itu dipengaruhi oleh 7% verbal, 38% voice, dan 55% visual. Artinya, bahasa tubuh dan ekspresi wajah menjadi faktor yang berpengaruh pada kesuksesan komunikasi kita. Cara menyampaikan pesan sangatlah penting dibandingkan isi pesan yang ingin disampaikan.
Perhatikan kata-kata ini, "kalau diingatkan selalu bilang nanti-nanti, kalau dipaksa malah marah!".
Hal ini wajar terjadi, jika bahasa tubuh kita salah. Mungkin kita mengingatkan si anak dengan membentak atau mengancam, akibatnya si anak akan terus menunggu sampai ada instruksi keras lagi. Oleh karena itu, agar pesan yang kita inginkan bisa sampai ke anak, cobalah untuk menyediakan waktu, menyampaikan dengan tenang, melihat ekspresi dan suasana hati si anak, serta sampaikan pesan kita dengan disertai penjelasan yang logis. Jangan lupa juga tampilkan bahasa tubuh kita yang nyaman, seperti mendengarkan, menatap si anak dengan penuh perhatian, dan bersikap empatik terhadap perasaannya.
Oke, selamat mencoba J
               
#Metro, 3 Mei 2015