Rabu, 09 Agustus 2017
Mitsaqan Ghalizhan
Hai cinta,
yang dulu tak pernah kusebut dalam doa
Kini hadirmu telah menghiasi hidupku
Senyummu telah menawan rinduku
Matamu telah memikat hatiku
Kesholihanmu telah menundukkan pandanganku
Perhatianmu telah meletupkan gejolak asmaraku
Jika dulu namamu tak pernah ku sebut dalam doa
Kini lisanku telah melafalkan ribuan kata
Ramai menyebutmu dalam setiap pinta
Sujudku, mengharu biru dalam kesyukuran
Bersyukur karna kita dipersatukan
Kamu, yang kini ku rindu setiap waktu
Memberatkan tangan untuk melepas genggaman
Semoga Allah menjagamu
Membimbingmu dalam kebaikan
Memberimu kekuatan saat kita berjauhan
Jumat, 24 Maret 2017
RASA
Masih terus bertahan,
Berharap kau kan datang,
Hingga kaki ini lelah berjalan,
Hingga raga ini tak kuat lagi menopang,
Aku akan tetap bertahan,
Setetes air mata ini,
Menjadi saksi,
Bahwa "Rasa" ini hanya untukmu seorang
Berharap kau kan datang,
Hingga kaki ini lelah berjalan,
Hingga raga ini tak kuat lagi menopang,
Aku akan tetap bertahan,
Setetes air mata ini,
Menjadi saksi,
Bahwa "Rasa" ini hanya untukmu seorang
Melepasmu
Kala tangan ini ingin kuat menggenggammu,
Takdir-Nya bermain keras untukku,
Semakin ku genggam,
Semakin terasa lelah jiwaku.
Layaknya berdiri ditepi jurang,
Harus ada pilihan,
Melepaskanmu atau membiarkanmu terlepas
Takdir-Nya bermain keras untukku,
Semakin ku genggam,
Semakin terasa lelah jiwaku.
Layaknya berdiri ditepi jurang,
Harus ada pilihan,
Melepaskanmu atau membiarkanmu terlepas
Rabu, 15 Maret 2017
ONE DAY ONE JUZ
Desiran angin malam menyadarkanku
Betapa cepat waktu ini berputar
Baru saja mata ini terbuka
Melihat indahnya fajar menyingsing
Melihat bunga-bunga bermekaran
Melihat awan berarak beriringan
Tapi oh ternyata,,, kini semua gelap
Hanya kelip-kelip lampu malam dan bintang bertaburan
Andai saja waktu bisa kuputar sedikit kebelakang
Kan kutunaikan kewajibanku pada tuhan
Dengan bergegas.... bersegera...
Karna surat cinta-Nya begitu berharga
Betapa cepat waktu ini berputar
Baru saja mata ini terbuka
Melihat indahnya fajar menyingsing
Melihat bunga-bunga bermekaran
Melihat awan berarak beriringan
Tapi oh ternyata,,, kini semua gelap
Hanya kelip-kelip lampu malam dan bintang bertaburan
Andai saja waktu bisa kuputar sedikit kebelakang
Kan kutunaikan kewajibanku pada tuhan
Dengan bergegas.... bersegera...
Karna surat cinta-Nya begitu berharga
Selasa, 01 Maret 2016
JADI HAFIDZAH ITU KEREN
Oleh Dwi Puji Astuti
Namanya Aisyah, siswi yang cantik ini sekarang duduk di kelas 5 SD, di salah
satu sekolah swasta di kota metro. Anaknya baik hati, pemberani, riang, dan mudah
bergaul. Selain itu, dia punya hobi menghafal Al-Qur'an, cita-citanya pun
menjadi hafidzah, makanya kemana pun ia pergi kecuali ke kamar mandi, ia selalu
membawa kumpulan juz amma untuk dihafalkan. Sekarang dia sudah hafal 2 juz
Al-Qur'an yaitu juz 29 dan juz 30, Alhamdulillah kini ia mulai menghafal juz
28.
Namun hari ini rasanya ada yang berbeda, wajahnya tampak murung tak
bersemangat. Aisyah tidak tersenyum riang seperti biasanya. Ada apakah dengan
Aisyah??
Oh, ternyata hari ini Aisyah bête banget. Mala sahabat baiknya dari tadi
menanyakan terus apa cita-citanya. Ketika sudah dijawab sekali, eh Mala malah
terus-terusan bertanya. Lama-kelamaan Aisyah jadi jengkel, apalagi menurut
Aisyah cara bertanya mala agak keterlaluan. Senyumnya dibuat-buat, badannya
dibusungkan, tatapan wajahnya seolah-olah merendahkan cita-cita Aisyah, yang
katanya cita-cita Aisyah ketinggalan jaman, kuno lah, kampungan lah. Huh,
akhirnya seharian ini Aisyah uring-uringan.
Pulang sekolah, Aisyah masih jengkel. Ia menyandarkan sepeda merahnya asal-asalan.
Brruukkk…. begitu bunyi sepedanya jatuh dilantai. Umminya yang siang itu
sedang sibuk di dapur tergopoh-gopoh lari menuju garasi. Begitu sampai di
garasi, dilihatnya sepeda Aisyah ngelosor di lantai.
"Masyaallah… Aisyah!" seru Ummi. Aisyah tidak menyahut.
"Ini sepeda ketiup badai apa angin topan? Kok bisa ambruk enggak
karuan begini?" ummi geleng-geleng kepala.
"Ah.. enggak taulah ummi!" sahut Aisyah ogah-ogahan dari dalam
kamarnya.
Ummi tersenyum. Emmm, pasti Aisyah lagi ada masalah di sekolah, pikir
ummi. Disandarkan sepeda Aisyah dengan baik, setelah yakin sepeda itu tidak
jatuh ummi langsung berjalan menuju kamar Aisyah. Begitu sampai di kamar, dilihatnya
Aisyah sedang tiduran di kasur dengan posisi belum berganti seragam, wajahnya
benar-benar ditekuk. Ummi mendekati Aisyah dengan hati-hati. Dielusnya rambut
Aisyah dengan penuh kasih sayang.
"Aisyah sudah makan?" Tanya ummi membuka percakapan. Aisyah
mengangguk.
"Aisyah capek?" Tanya ummi lagi. Aisyah menggeleng. Ummi
menghela nafas.
" Ada apa, sayang?" Tanya ummi pada aisyah. Aisyah masih saja
diam.
" Cerita dong sama ummi, siapa tau ummi bisa bantu.."
Aisyah menggeserkan badannya. Dia mencari posisi duduk yang nyaman.
Ditatap wajah umminya, ummi tersenyum meyakinkan.
"Emmm… mi, emang punya cita-cita jadi hafidzah itu ketinggalan
jaman ya?" Tanya Aisyah. Ummi semakin tersenyum. Mulai bisa ditebak nih kemana
arah pembicaraan, yang membuat perasaan Aisyah jengkel dan uring-uringan.
"Kok ummi malah tersenyum?" Tanya Aisyah bingung.
"Ummi tersenyum karena lucu melihat anak ummi yang cantik ini
wajahnya cemberut. Jadi mirip bebek yang punya mulut mancung ke depan.
Hehe.." kata ummi mencairkan suasana hati Aisyah.
"Ah ummi ini…. Serius dong mi!" kata Aisyah mulai tersenyum merajuk.
"Nah gitu dong, kalo senyum kan anak ummi makin cantik… oke,
sekarang ummi siap dengerin curhatan tuan putri.." kata ummi dengan
bergaya siap, posisi tangan diatas kening seolah-olah sedang hormat pada tuan
putri. Aisyah justru tertawa.
"Lho, kok malah tertawa?"
"Ya abis ummi godain Aisyah sih…"
"Oke.. hehe, ya sudah sekarang tuan putri silahkan mulai
ceritanya…"
"Ya gini lho mi, kan tadi di sekolah ada pelajaran SBK, bu dwi tu
cerita kalo kita harus punya mimpi, harus punya cita-cita. Kata bu Dwi punya
cita-cita itu sudah separuh kesuksesan. Tinggal setengahnya lagi usaha dan do'a
untuk mencapai cita-cita itu. Nah tadi bu guru cerita kalau kita punya mimpi
apapun itu, kita disuruh untuk menuliskannya diselembar kertas, agar kita tidak
lupa dengan mimpi-mimpi itu, dan nanti supaya kita tahu bahwa satu persatu
mimpi-mimpi kita akan terwujud. Tanpa sadar, ternyata mimpi-mimpi yang pernah
kita tuliskan itu, suatu hari nanti tinggal coretan-coretan karena satu persatu
Allah sudah wujudkan.."
Aisyah berhenti sejenak. Ditatap kembali wajah umminya yang saat itu
tersenyum memancarkan aura kekaguman. Melihat ekspresi umminya yang penasaran,
Aisyah jadi bersemangat untuk meneruskan kembali ceritanya.
"Nah tadi bu Dwi meminta kita semua untuk menyebutkan satu persatu
cita-cita kita. Waktu teman-teman menyebutkan, ternyata Mala ingin jadi dokter,
Rere ingin jadi sheef, Dion ingin jadi pilot, Andika ingin jadi polisi, Aji
ingin jadi TNI AU, pokoknya banyak lagi deh…" Aisyah berhenti cerita.
"Nah terus??" Ummi penasaran. Aisyah menghela nafas, lalu
melanjutkan ceritanya kembali.
"Nah, Aisyah kan bilang kalau Aisyah pengen jadi hafidzah, eh Mala
malah tertawa. Tertawanya kayak ngejek gitu deh ummi. Masak kata mala jadi
hafidzah itu kuno, ketinggalan jaman. Kan Aisyah jadi bête, mi…"
"Terus bu guru bilang apa?"
"Bu guru bilang kalau cita-cita pengen jadi dokter, polisi,
tentara, dan lain lain itu bagus… dan cita-cita ingin jadi hafidz/hafidzah itu
lebih bagus lagi. Apalagi kalau kita bisa jadi dokter yang hafidz/hafidzah,
jadi polisi yang hafidz/hafidzah, jadi tentara yang hafidz/ hafidzah.. wah,
kata bu guru itu cita-cita hebat banget mi..."
"Nah itu Aisyah tahu, terus kenapa Aisyah mesti jengkel?"
"Ya Aisyah jengkel sama Mala mi, kok bisa-bisanya dia bilang jadi
hafidzah itu kuno.. padahal kan seperti kata bu guru tadi, jadi hafidzah itu
hebat. Pahalanya juga buuanyaak kan mi? Hafidz qur'an itu menjadi keluarga
Allah di dunia, derajat kita tinggi di syurga, Al-Qur'an nanti menjadi penolong
bagi penghafalnya, penghafalnya akan memakai mahkota kehormatan, dan hati
penghafal Al-Qur'an tidak disiksa... wah luar biasa kan mi…" tanpa sadar
ternyata Aisyah sudah mampu menguraikan keutamaan menjadi hafidz/hafidzah.
Mampu mengambil kesimpulan sendiri tanpa umminya harus menggurui.
Ummi tersenyum.
"Aisyah anak ummi yang sholehah.. tu anak ummi tahu. Kalo semua
cita-cita itu bagus, jempol.. apalagi kalo cita-cita kita bisa diimbangi dengan
menjadi hafidz/hafidzah, wah bahagianya nih, hemmm… dunia akhirat… jadi pesen
ummi, Aisyah enggak perlu lagi jengkel dengan perkataan teman Aisyah yang
mengatakan kalau hafidz Qur'an itu kuno, ketinggalan jaman, karena aisyah sudah
tahu apa keistimewaan cita-cita itu.. nah sekarang tinggal Aisyah yang
meyakinkan teman Aisyah, terutama Mala, kalau jadi hafidzah itu keren banget,
kerennya itu enggak Cuma di dunia tapi juga di akhirat. Enggak bakal rugi deh,
bahkan yang ada justru kita semakin beruntung.." kata ummi lebih
menyakinkan dan menguatkan Aisyah.
Aisyah mangut-mangut, di wajahnya terpancar perasaan puas. Dalam hati ia
berjanji, ia tidak akan jengkel dengan mala lagi. Karena ia tahu, cita-citanya
menjadi hafidz/hafidzah itu cita-cita yang keren banget.
"Makasih ya ummi…" kata Aisyah seraya memeluk umminya erat.
*****
Senin, 25 Januari 2016
Berharap
Aku tak tahu harus menulis apa
rasanya perasaan ini bercampur aduk
seperti pecel yang sering ku makan di kantin bude
Emmm, KAMMI... mungkinkah aku masih bisa bekerja untuknya
merealiksasikan mimpi-mimpi yang kini sempat tertunda
berharap.. terus berharap... selalu berharap
akan ada spirit baru dariku untuknya.
walau yakin tak bisa membersamainya selalu
aku kan tetap berusaha
memberikan kontribusi baginya menjadi nyata
rasanya perasaan ini bercampur aduk
seperti pecel yang sering ku makan di kantin bude
Emmm, KAMMI... mungkinkah aku masih bisa bekerja untuknya
merealiksasikan mimpi-mimpi yang kini sempat tertunda
berharap.. terus berharap... selalu berharap
akan ada spirit baru dariku untuknya.
walau yakin tak bisa membersamainya selalu
aku kan tetap berusaha
memberikan kontribusi baginya menjadi nyata
Rabu, 20 Januari 2016
Aku Mulai Cinta...
Cinta ini.. oh mulai bersemi...
Seperti kuntum bunga yang mulai mekar, mewangi..
Kenapa baru sekarang cinta itu tumbuh?
Entahlah, yang pasti hari ini, esok, dan seterusnya
Aku mencintai bahasa arab..
Mulai cinta, dan akan selalu bersemi...
Seperti kuntum bunga yang mulai mekar, mewangi..
Kenapa baru sekarang cinta itu tumbuh?
Entahlah, yang pasti hari ini, esok, dan seterusnya
Aku mencintai bahasa arab..
Mulai cinta, dan akan selalu bersemi...
Minggu, 17 Januari 2016
Undangan, Oh Undangan….
Ia tersenyum, diletakkan kertas bermotif yang kini ada ditangannya. Ah,
awalnya ia tak perduli dengan itu, tetapi tiba-tiba terbesit suatu rasa yang
mengganjal hatinya. Kapan? Pertanyaan yang terulang-ulang, membuatnya semakin pilu.
"Duluan saja, saya belum" kata itu mengalir begitu saja dari
mulutnya. Yah, entah kenapa dia selalu ingin mengatakan itu.
Kembali dipandangnya undangan berwarna hijau bercorak
batik yang kini tergeletak di atas meja. Nyesek, adek tingkatnya dulu satu
persatu mendahuluinya. Bukan karena iri, bukan, ini tentang kesiapan hati.
Entah kenapa ia ragu, belum terpikir untuk melangkah ke jenjang itu.
Ditunggu undangannya ya….
Lagi-lagi kalimat itu menyayat hati. Harus berapa kali ia katakan, saya belum
kawan-kawan, please cari kalimat yang lain untuk dikatakan. Jika tak
ingin menyakiti maka jangan kau ungkit-ungkit tentang itu. Biarlah semua
mengalir begitu, akan ada waktunya masing-masing. Boleh jadi, mereka yang sudah
lebih dulu karena memang benar-benar sudah siap, sudah didekatkan oleh Allah.
Biarlah ketentuan-Nya berjalan kepada kita dengan indah. Tak perlu gelisah
dengan mengobral proposal itu. Tak perlu galau dengan ngepost foto-foto selfie.
Biarkan, biarkan semua itu. Yang perlu kita lakukan hanya menyiapkan diri kita
menjadi lebih baik. Agar yang jauh disana, yang kini ada dalam do'a, mempunyai
rindu yang sama untuk setapak demi setapak mendekat karena cinta-Nya.
Jumat, 16 Oktober 2015
SDIT WU METRO SHOLAT ISTISQO'
Istisqo secara bahasa adalah meminta turun hujan. Secara istilah
yaitu meminta kepada Allah SWT agar menurunkan hujan dengan cara
tertentu ketika dibutuhkan hamba-Nya.
Hukum shalat Istisqo adalah sunnah muakkadah bagi yang terkena musibah kelangkaan air untuk minum dan kebutuhan lainnya. Dan dianjurkan bagi kaum muslimin lainnya yang masih mendapatkan air, sebagai bentuk ukhuwah dan tolong menolong dalam kebaikan dan ketakwaan.
Alhamdulillah, beberapa waktu yang lalu SDIT Wahdatul Ummah Metro Lampung melakukan sholat istisqo. semoga terijabah segala doa yang dilantunkan. Aamiin
Hukum shalat Istisqo adalah sunnah muakkadah bagi yang terkena musibah kelangkaan air untuk minum dan kebutuhan lainnya. Dan dianjurkan bagi kaum muslimin lainnya yang masih mendapatkan air, sebagai bentuk ukhuwah dan tolong menolong dalam kebaikan dan ketakwaan.
Alhamdulillah, beberapa waktu yang lalu SDIT Wahdatul Ummah Metro Lampung melakukan sholat istisqo. semoga terijabah segala doa yang dilantunkan. Aamiin
Selasa, 09 Juni 2015
BUKAN SILUET MIMPI
Kupandangi buku diary yang barusan kubaca.
Batinku galau!
05/01/2012 16:38:15
"Kamu punya bakat nulis besar, coba kritik apa
yang ada, beri solusi, lalu kirim!"
23/10/2013 18:15:24
"Ayo nulis dek, abang pengen baca tulisan puji!"
Begitulah kalimat yang tertera disana.
Huff, aku hampir gila membaca kata-kata
itu. Seperti terekam dalam memori dan siap meledak jika tak segera
kurealisasikan. Mungkin kata-kata itu memang sederhana, tapi bagiku menulis itu
luar biasa, butuh proses dan perencanaan yang matang. Apalagi otak kiriku cenderung
lebih banyak bekerja, otomatis apa yang akan terjadi padaku harus terencana
dengan matang. Parahnya, karena kebiasaan otak kiriku bekerja, aku selalu
bingung ketika memulai menulis. Setiap kata yang lahir, selalu kupertimbangkan
cocok tidaknya. Karena terlalu banyak pertimbangan, kadang aku lupa dengan alur
dan karakter yang akan kubangun. Alhasil, tulisan mandeg lagi.
Kupandangi lagi tulisan dibuku diary itu,
bagiku kata-katanya sangat bermakna, sayang jika tak kuabadikan. Awalnya aku
hanya menulis pengalaman, mimpi, harapan, tapi ternyata sms pun membuatku
tertarik untuk menuliskannya. Dan kata-kata dalam buku diary itu, sengaja
kutulis dari sms yang masuk ke inbox hp, kutulis lengkap beserta tanggal dan
waktu. Tujuannya hanya satu: Spirit!
Rasanya baru kemarin aku menulis kalimat
itu. Tapi ternyata hampir satu tahun tulisan itu bertengger disana. Dan selama
itu, aku tak pernah menghasilkan tulisan yang berarti.
Oh tidak! Rasanya aku tak kuat lagi. Aku
malu, atas mimpi-mimpiku yang mungkin terlampau tinggi. Merealisasikan mimpi.
Ternyata memang susah sekali.
Rasanya lelah, kusandarkan tubuhku dikursi
tua yang berwarna kecoklatan. Kuambil nafas dalam-dalam, lalu kuhembuskan
secara perlahan. Rasanya sedikit tenang. Kupandangi isi kamarku. Dipojok
sebelah kanan tempatku duduk kini, ada ranjang yang kokoh, asli buatan tangan
ayahku. Diatasnya bantal dan selimut tertata apik. Sebelah kiriku ada lemari
kayu dengan tumpukan buku-buku yang berjajar rapi. Hobiku yang memang suka
membaca, menginspirasiku membuat perpustakaan kecil. Tak ketinggalan, tembok
disekeliling kamarku yang putih itu, penuh terisi gambar-gambar yang ku mau.
Ada bendera kebesaran dari organisasi kampusku, bendera yang sengaja kuambil
untuk kenang-kenangan selama hidupku. Aku tahu, jika teman-teman masuk
kekamarku, mereka pasti protes. Bendera yang biasanya untuk aksi, kini
bertengger dikamarku. Konyol, batinku geli. Lalu dibawahnya, ada peta hidup
selama setahun yang kutempel tepat diatas ranjangku. Disampingnya ada 'pohon
mimpi' untuk harapan yang ingin kucapai. Poster kaligrafi, gambar conan
kesukaanku, dan beberapa jadwal agenda kedepan ikut menghiasi kamarku.
Pandanganku kembali terpaku pada pohon
mimpi. Aku berjalan mendekatinya. Kusentuh pelan, kurasakan tintanya yang kini
hampir memudar. Kuamati dengan seksama. Aku bergetar membacanya.
Penulis produktif, Menulis bersama pengarang best
seller, Menerbitkan karya terbaik, Guru umat, Pandai berbahasa arab, Punya lembaga
belajar, Sukses aktivis dan akademik, Mempersembahkan prestasi terbaik untuk
ayah-bunda, Memiliki toko buku, Beasiswa keluar negeri, Keliling Indonesia
gratis, Jaringan luas, Ipk min 3,00…………
Aku terpaku. Tak kuat membaca selanjutnya.
Baru beberapa yang kulingkari. Itu berarti, baru beberapa yang sudah nyata.
Kurasakan Kristal bening keluar dari
kelopak mataku. Aku tak percaya, aku berada dalam mimpiku, atau mimpi yang
berada dalam diriku?
**dream**
Trrreeettt….trrreeeettt…. hape-ku bergetar.
Bergegas kuraih hape itu. Ada sms ternyata.
Kubuka dengan segera.
23/10/2013 08:51:37
"Hoho belum rezeki abang masuk Koran lagi berarti
harus tulisan puji, dkk yang masuk Koran, sebab Koran mungkin agak bosan dengan
tulisan abang"
Deggg..!!
Kata yang sederhana, tapi memompa
semangatku. Berarti harus opini puji, dkk yang masuk Koran. Berkali-kali
aku terngiang kalimat itu. Aku sadar, aku memang harus menulis, harus kupaksa.
Jatuh bangun kufokuskan diriku untuk menulis. Tapi sayang, begitu aku berada
didepan layar notebook-ku, ide yang awalnya kudapatkan malah menghilang.
Ingin sekali aku berteriak pada tuhan,
bertanya padanya kenapa aku susah menulis. Tapi aku tak kuasa, mungkin aku yang
harus banyak belajar dari-Nya, batinku berbisik.
Sempat terbersit, kalau menulis itu hanya
untuk yang punya bakat. Tapi ternyata, Gola Gong menyadarkan ku lewat bukunya
yang kubaca. Menulis itu bukan bakat, tapi usaha yang terus diasah. Menulis
juga bukan pekerjaan para dewa, karena semua orang juga bisa menulis. Tapi
tetap ada syaratnya, untuk menjadi penulis itu jiwa dan pikiran harus terisi
penuh oleh sumber bacaan dan pengalaman.
"Pu… udah bel! Melamun ya?"
Aku
tergagap. Fitri yang melihatku tergagap jadi memandangiku lekat. Ada nuansa
penasaran pada wajahnya yang putih itu.
"Ada
apa? Apa anak-anak ada yang bandel?" ujarnya kemudian. Fitri adalah
sahabatku yang sama-sama mengajar di sekolah Es-Em-Pe.
Aku
tersenyum. Kubalas tatapan matanya. Wajah tulus sahabatku ini memancar dari
balik jilbab biru yang dipakainya.
"Oh..
enggak ada kok, fit. Semua baik-baik saja. Justru aku sekarang yang merindukan
anak-anak, bagiku mereka adalah guru kehidupanku."
Sahabatku itu tersenyum. "Oh, ya sudah
kalau baik-baik saja!" katanya kemudian.
Aku
tersenyum meyakinkannya. Berharap bisa mengurangi beban dihatiku, aku masuk
kelas. Yah kini sekolah, buku pelajaran, murid, silabus dan rpp menjadi bagian
dari aktivitas keseharianku. Sambil berdiri dari tempatku duduk, kuambil
beberapa buku yang kuperlukan. Kusapa beberapa guru yang ada di kantor, sebelum
akhirnya aku berlalu.
Kudapati
kelas dalam keadaan kacau. Suara gaduh teriakan anak-anak terdengar sampai
radius duapuluh meter, bangku tak beraturan, kertas berserakan. Oh, anak-anak
ini.
"Aming
bu, yang membuat kelas begini…"
Agung,
si ketua kelas membela diri. Aming yang tertuduh tidak terima.
"Bukan saya lho bu, teman-teman yang
lain juga."
Kubuat wajahku terlihat setegas mungkin
agar mereka tak berani. Benar, mereka terdiam tapi itu tak berlangsung lama.
Kembali mereka gaduh lagi. Ternyata beginilah menjadi guru, belajar banyak dari
anak-anak. Belajar memberi teladan dan belajar arti kesabaran.
Kelas tetap tak bisa kukendalikan.
Efektivitas waktu dan tenaga. Akhirnya,
Kuhukum mereka. Tanpa terkecuali, kuhukum mereka semua untuk ngepel kelas dan
kamar mandi. Mereka protes keras. Aming shan-shan, menjadi kordinator yang
paling gigih menentang. Suara
khasnya yang cetar membahana, ditambah dengan sikapnya yang sedikit tomboy,
urakan, cuek serta berani membuatku keki tingkat tinggi. Tak hanya sekali, aku sering
dibuatnya kalah. Semua jurus dan metode yang pernah kupelajari dalam mengelola
kelas, seolah-olah tak ada yang manjur untuk menghadapi anak ini. Mungkin ini
salah satu yang membuat diriku kesal padanya. Otomatis namanya pun masuk
kedalam hatiku menjadi salah satu daftar nama siswa bandel dikelas.
Hari ini aku
semakin lelah, merasa kalah tak bisa produktif menulis, dan merasa kalah tak
bisa mengelola kelas.
Ya,
anganku selama ini mungkin hanya jadi mimpi. Sekali lagi hanya siluet mimpi.
**dream**
Sendirian
dikamar, aku menulis seperti orang kesetanan. Perasaan batin yang mengiris tadi
siang membuatku ingin menumpahkan semuanya dalam lembaran kertas kosong. Dalam
sekejap, bidang kertas putih itu terisi penuh oleh tulisan tanganku, lalu
lembar kedua, ketiga lalu seterusnya. Sambil menulis tak jarang air mataku ikut
terselinap, meninggalkan jejak tinta yang mengores kertas. Air mata apa ini,
aku tak perduli.
Kutulis,
tulis, dan terus menulis, sampai akhirnya tangan dan tenagaku melemah.
Taakkk..
Pulpenku jatuh, aku tak kuat lagi
memegangnya.
Badanku bergoyang menahan rasa pilu.
Kutumpahkan semua rasa, sampai aku merasakan keadaan yang lebih baik.
Baru kusadar, aku telah menulis banyak
sekali. Ya, aku benar-benar sudah menulis.
Kurapikan tulisan itu, ku edit sekali lagi.
Lalu kusimpan dalam folder yang kuberi nama "Kepingan Puzzle Jiwaku".
Lalu kusambungkan notebook-ku dengan internet. Kucari media online yang
menerima kiriman tulisan. Ketemu. Lalu terakhir, ku kirim dengan penuh cinta
dan semangat.
Aku hanya yakin. Ini bukan siluet mimpi.
**dream**
“Kukuruyuk...........kukuruyuk...!”
Alarm ku yang kupasang mirip suara ayam berkokok itu berbunyi. Aku
menguap masih menahan kantuk. Kulirik jam diatas kamar tidurku, pukul 03.35. Aku terbangun untuk menunaikan
aktifitas rutinku: Shalat Malam. Berharap apa yang kuinginkan, akan segera
terwujud.
Bayangan ayah,
dengan penampilannya yang sederhana berkelebat. Rasanya baru kemarin ia
menguatkan semangatku, tapi ternyata sudah 8 bulan ia meninggalkanku untuk
selamanya. Wajahnya yang keriput kini seolah tersenyum padaku. Dari lisannya,
samar-samar kudengar ia berbisik, dan hanya ditunjukkan padaku.
Kau pasti bisa
meraih mimpimu, nak. Yakin dan tawakal.
"Belilah
computer, kalau itu bisa menunjangmu lebih banyak menulis"
Komentarnya suatu hari padaku. Padahal, aku
tahu ia tak pernah mengerti tentang tulis menulis. Tapi, ayah selalu menghargai
keinginanku. Di mata beliau, mimpiku adalah mimpinya. Jika beliau ada, seluruh
hidupnya pasti akan dikorbankan untuk diriku.
Aku bersimpuh pada yang maha kuasa sampai waktu subuh tiba.
Tepat
jam 07.00 hapeku berdering. “Tirurit...tirurit”
Hape-ku yang bergetar itu memberikan tanda bahwa ada pesan baru
di inbox. Kuputar badan dan kembali meraih hape itu. Pesan dari abangku.
Alhamdulillah.. abang seneng.
Tulisan adek dimuat hari ini. Semoga jadi awalan yang terus berlanjut dengan
tulisan-tulisan super berikutnya, dek. Barakallah ya..
Hah....,deg....!!
Aku langsung shock membaca sms itu. Ini beneran atau sekedar
keisengan abangku? aku tak
percaya. Aku baca sekali lagi. Hah.....??
ini asli, bukan iseng, kata hatiku meyakinkan diriku sendiri.
Aku tersadar. Ini nyata. Nyata sekali. Dan
ini, bukan siluet mimpi! Hari ini dan 5 tahun lagi.
**selesai**
Langganan:
Postingan (Atom)











